BIOGRAFI KH KHOLIL BANGKALAN


BIOGRAFI KH KHOLIL BANGKALAN

oleh KH Dadeng Badul Qadir

Syaikhona Mbah Kholil

Banyak ulama generasi sekarang yang meski tidak pernah ketemu fisik dan
bahkan lahirnya jauh sesudah syaikhona Kholil meninggal, mengakui kalau
perintis dakwah di Pulau Madura ini adalah guru mereka. Bukan guru
secara fisik, melainkan pembimbing secara batin.

Sejumlah murid yang berhasil dicetak menjadi ulama besar oleh Syaikhona
Kholil adalah, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari (Tebu Ireng Jombang),
KH Wahab Hasbullah (Tambak Beras Jombang), KH Bisri Syansuri (Denanyar
Jombang), KH As’ad Syamsul Arifin (Sukorejo Situbondo), Kiai Cholil
Harun (Rembang), Kiai
Syeikh Abdullah Mubarok (Suryalaya Tasikmalaya)
Syeikh Ahmad Shohibul Wafa'Tajul'Arifin (Suryalaya Tasikmalaya)
Ahmad Shiddiq (Jember), Kiai Hasan (Genggong
Probolinggo), Kiai Zaini Mun’im (Paiton Probolinggo), Kiai Abi Sujak
(Sumenep), Kiai Toha (Bata-Bata Pamekasan), Kiai Usymuni (Sumenep), Kiai
Abdul Karim (Lirboyo Kediri), Kiai Munawir (Krapyak Yogyakarta), Kiai
Romli Tamim (Rejoso Jombang), Kiai Abdul Majid (Bata-Bata Pamekasan).
Dari sekian santri Syaikhona Kholil pada umumnya menjadi pengasuh
pesantren dan tokoh NU seperti Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dan
Kiai Wahab Hasbullah. Bahkan Presiden pertama RI Soekarno, juga pernah
berguru pada Syaikhona Kholil Bangkalan. Selain berhasil mencetak para
santri-santrinya menjadi kiai, Syaikhona Kholil adalah salah satu kiai
yang menjadi penentu berdirinya organisasi terbesar di Indonesia, yakni
Nahdlatul Ulama yang disingkat (NU).

KH Kholil menimba ilmu di Mekah selama belasan tahun. Satu angkatan
dengan KH Hasyim Asy’ari. Selevel di bawahnya, ada KH Wahab Chasbullah
dan KH Muhammad Dahlan. Ada tradisi di antara kiai sepuh zaman dulu,
meski hanya memberi nasihat satu kalimat, tetap dianggap sebagai guru
Demikian juga yang terjadi di antara 4 ulama besar itu. Mereka saling
berbagi ilmu pengetahuan, sehingga satu sama lain, saling memanggilnya
sebagai tuan guru.

Sampai sekarang, meski sudah meninggal, banyak ulama yang mengaku
belajar secara gaib dengan Kyai Kholil. Banyak cara dilakukan untuk
belajar kitab secara gaib dari ulama tersohor ini. Salah satunya dengan
berziarah serta bermalam di makam beliau. Pernah dikisahkan KH Anwar
Siradj, pengasuh PP Nurul Dholam Bangil Pasuruan. Saat mempelajari kitab
alfiyah, beliau mengalami kesulitan. Padahal, kitab yang berupa
gramatika Bahasa Arab tersebut, merupakan kunci untuk mendalami
kitab-kitab lain.

Kiai Anwar sudah mencoba berguru kepada kiai-kiai besar di hampir semua
penjuru Jawa Timur. Tapi hasilnya nihil. Suatu ketika, seperti
dikisahkan ustadz Muhammad Salim (santri Nurul Dholam), Kiai Anwar dapat
petunjuk, agar mempelajari kitab alfiyah di makam Kyai Kholil. Petunjuk
gaib itu pun dilaksanakan. Selama sebulan penuh Kiai Anwar ziarah di
makam Mbah Kholil Bangkalan. Di makam itu dia mempelajari kitab alfiyah.
Akhirnya Kiai Anwar bisa menghafal alfiyah.

Kyai Kholil paling dituakan dan berkaromah di antara para ulama saat
itu. Yang sangat terkenal adalah pasukan lebah gaib. Dalam situasi
kritis, beliau bisa mendatangkan pasukan lebah untuk menyerang musuh.
Ini sering beliau perlihatkan semasa perang melawan penjajah. Termasuk
saat peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.

Mbah Kholil bersama kiai-kiai besar seperti Bisri Syansuri, Hasyim
Asy’ari, Wahab Chasbullah dan Mbah Abas Buntet Cirebon, mengerahkan
semua kekuatan gaibnya untuk melawan tentara Sekutu.

Hizib-hizib yang mereka miliki, dikerahkan semua untuk menghadapi lawan
yang bersenjatakan lengkap dan modern. Sebutir kerikil atau jagung pun,
di tangan kiai-kiai itu bisa difungsikan menjadi bom berdaya ledak
besar. Tak ketinggalan, Mbah Kholil mengacau konsentrasi tentara Sekutu
dengan mengerahkan pasukan lebah gaib piaraannya. Di saat ribuan ekor
lebah menyerang, konsentrasi lawan buyar.

Saat konsentrasi lawan buyar itulah, pejuang kita gantian menghantam
lawan. Hasilnya terbukti, dengan peralatan sederhana, kita bisa mengusir
tentara lawan yang senjatanya super modern. Tapi sayang, peran ulama
yang mengerahkan kekuatan gaibnya itu, tak banyak dipublikasikan.

Karomah lain dari Kyai Kholil, adalah kemampuannya membelah diri.
[11:35, 1/31/2019] +62 812-9520-0730: Dia
bisa berada di beberapa tempat dalam waktu bersamaan. Pernah ada
peristiwa aneh saat beliau mengajar di pesantren. Saat berceramah, Mbah
Kholil melakukan sesuatu yang tak terpantau mata. Tiba-tiba baju dan
sarung beliau basah kuyub. Para santri heran. Sedangkan beliau sendiri
cuek, tak mau menceritakan apa-apa. Langsung ngloyor masuk rumah, ganti
baju.

Teka-teki itu baru terjawab setengah bulan kemudian. Ada seorang nelayan
sowan Kyai Kholil. Dia mengucapkan terimakasih, karena saat perahunya
pecah di tengah laut, langsung ditolong Kyai Kholil. Kedatangan nelayan
itu membuka tabir. Ternyata saat memberi pengajian, Kyai Kholil dapat
pesan agar segera ke pantai untuk menyelamatkan nelayan yang perahunya
pecah. Dengan karomah yang dimiliki, dalam sekejap beliau bisa sampai
laut dan membantu si nelayan itu.


Hari Selasa, 27 Januari 1820 atau 11 Jumada Al-Tsaniyah 1235 H/ 11
Jamadilakhir 1235 Hijrah di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan
Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur Abd Al-Latif,
seorang kiai di Kampung Senenan, desa Kemayoran, Kecamatan
Bangkalan,Kabupaten Bangkalan, Ujung Barat Pulau Madura; merasakan
kegembiraan yang teramat sangat. Karena hari itu, dari rahim istrinya
lahir seorang anak laki-laki yang sehat, yang diberinya nama Muhammad
Kholil.

Kiai ‘Abd. Al-Latif sangat berharap agar anaknya di kemudian hari
menjadi pemimpin ummat, sebagaimana nenek moyangnya. Seusai meng-adzani
telinga kanan dan meng-iqamati telinga kiri sang bayi, Kiai ‘Abdul Latif
memohon kepada Allah agar Dia mengabulkan permohonannya.

Kholil berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, K.H. ‘Abd Al-Latif,
mempunyai pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati. Ayah ‘Abd Al-Latif
adalah Kiai Hamim, anak dari Kiai ‘Abd Al-Karim. Yang disebut terakhir
ini adalah anak dari Kiai Muharram bin Kiai Asra Al-Karamah bin Kiai
‘Abd Allah b. Sayyid Sulaiman. Sayyid Sulaiman adalah cucu Sunan Gunung
Jati. Maka tak salah kalau Kiai ‘Abd Al-Latif mendambakan anaknya kelak
bisa mengikuti jejak Sunan Gunung Jati karena memang dia masih terhitung
keturunannya.

Oleh ayahnya, ia dididik dengan sangat ketat. Kholil kecil memang
menunjukkan bakat yang istimewa, kehausannya akan ilmu, terutama ilmu
Fiqh dan nahwu, sangat luar biasa, bahkan ia sudah hafal dengan baik
Nazham Alfiyah Ibnu Malik (seribu bait ilmu Nahwu) sejak usia muda.
Untuk memenuhi harapan dan juga kehausannya mengenai ilmu Fiqh dan ilmu
yang lainnya, maka orang tua Kholil mengirimnya ke berbagai pesantren
untuk menimba ilmu.

Mengawali pengembaraannya, sekitar tahun 1850 an, Kholil muda berguru
pada Kiai Muhammad Nur di Pesantren Langitan Tuban. Dari Langitan,
Kholil nyantri di Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Dari sini Kholil
pindah lagi ke Pesantren Keboncandi, Pasuruan.

Selama di Keboncandi, Kholil juga belajar kepada Kiai Nur Hasan yang
masih terhitung keluarganya di Sidogiri. Jarak antara Keboncandi dan
Sidogiri sekitar 7 Kilometer. Tetapi, untuk mendapatkan ilmu, Kholil
rela melakoni perjalanan yang terbilang lumayan jauh itu setiap harinya.
Di setiap perjal…
[11:39, 1/31/2019] +62 812-9520-0730: Dari hasil
menjadi buruh batik inulah Kholil memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Kemandirian Kholil juga nampak ketika ia berkeinginan untuk menimba ilmu
ke Mekkah. Karena pada masa itu, belajar ke Mekkah merupakan cita-cita
semua santri. Dan untuk mewujudkan impiannya kali ini, lagi-lagi Kholil
tidak menyatakan niatnya kepada orangtuanya, apalagi meminta ongkos
kepada kedua orangtuanya.

Kemudian, setelah Kholil memutar otak untuk mencari jalan ke luarnya,
akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke sebuah pesantren di Banyuwangi.
Karena, pengasuh pesantren itu terkenal mempunyai kebun kelapa yang
cukup luas. Dan selama nyantri di Banyuwangi ini, Kholil nyambi menjadi
“buruh” pemetik kelapa pada gurunya. Untuk setiap pohonnya, dia mendapat
upah 2,5 sen. Uang yang diperolehnya tersebut dia tabung. Sedangkan
untuk makan, Kholil menyiasatinya dengan mengisi bak mandi, mencuci dan
melakukan pekerjaan rumah lainnya, serta menjadi juru masak
teman-temannya, dari situlah Kholil bisa makan gratis.

Akhirnya, pada tahun 1859 M., saat usianya mencapai 24 tahun, Kholil
memutuskan untuk pergi ke Mekkah. Tetapi sebelum berangkat, Kholil
menikah dahulu dengan Nyai Asyik, anak perempuan Lodra Putih. Setelah
menikah, berangkatlah dia ke Mekkah. Dan memang benar, untuk ongkos
pelayarannya bisa tertutupi dari hasil tabungannya selama nyantri di
Banyuwangi, sedangkan untuk makan selama pelayaran, konon, Kholil
berpuasa. Hal tersebut dilakukan Kholil bukan dalam rangka menghemat
uang, akan tetapi untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, agar
perjalanannya selamat.

Sebagai pemuda Jawa (sebutan yang digunakan orang Arab waktu itu untuk
menyebut orang Indonesia) pada umumnya, Kholil belajar pada para syekh
dari berbagai mazhab yang mengajar di Masjid Al-Haram. Namun
kecenderungannya untuk mengikuti Madzhab Syafi’i tak dapat di
sembunyikan. Karena itu, tak heran kalau kemudian dia lebih banyak
mengaji kepada para Syekh yang bermazhab Syafi’i.

Kebiasaan hidup prihatinnya pun, diteruskan ketika di Tanah Arab. Konon,
selama di Mekkah, Kholil lebih banyak makan kulit buah semangka
ketimbang makanan lain yang lebih layak. Realitas ini –bagi
teman-temannya, cukup mengherankan. Teman seangkatan Kholil antara lain:
Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, dan Syekh
Muhammad Yasin Al-Fadani. Mereka semua tak habis pikir dengan kebiasaan
dan sikap keprihatinan temannya itu. Padahal, sepengetahuan
teman-temannya, Kholil tak pernah memperoleh kiriman dari Tanah Air,
tetapi Kholil dikenal pandai dalam mencari uang. Ia, misalnya, dikenal
banyak menulis risalah, terutama tentang ibadah, yang kemudian dijual.
Selain itu, Kholil juga memanfaatkan kepiawaiannya menulis khat
(kaligrafi). Meskipun bisa mencari uang, Kholil lebih senang membiasakan
diri hidup prihatin. Kebiasaan memakan kulit buah semangka kemungkinan
besar dipengaruhi ajaran ngrowot (vegetarian) dari Al-Ghazali, salah
seorang ulama yang dikagumi dan menjadi panutannya.
[11:40, 1/31/2019] +62 812-9520-0730: Sepulangnya dari Tanah Arab (tak ada catatan resmi mengenai tahun
kepulangannya) , Kholil dikenal sebagai seorang ahli Fiqih dan Tarekat.
Bahkan pada akhirnya, dia-pun dikenal sebagai salah seorang Kiai yang
dapat memadukan ke dua hal itu dengan serasi. Dia juga dikenal sebagai
al-hafidz (hafal Al-Qur’an 30 Juz). Hingga akhirnya, Kholil dapat
mendirikan sebuah pesantren di daerah Cengkubuan, sekitar 1 Kilometer
Barat Laut dari desa kelahirannya.

Dari hari ke hari, banyak santri yang berdatangan dari desa-desa
sekitarnya. Namun, setelah putrinya, Siti Khatimah dinikahkan dengan
keponakannya sendiri, yaitu Kiai Muntaha; pesantren di Desa
Cengkubuan itu kemudian diserahkan kepada menantunya. Kiai Kholil
sendiri mendirikan pesantren lagi di daerah Kademangan, hampir di pusat
kota, sekitar 200 meter sebelah Barat alun-alun kota Kabupaten
Bangkalan. Letak Pesantren yang baru itu, hanya selang 1 Kilometer dari
Pesantren lama dan desa kelahirannya.

Di tempat yang baru ini, Kiai Kholil juga cepat memperoleh santri lagi,
bukan saja dari daerah sekitar, tetapi juga dari Tanah Seberang Pulau
Jawa. Santri pertama yang datang dari Jawa tercatat bernama Hasyim
Asy’ari, dari Jombang.

Di sisi lain, Kiai Kholil di samping dikenal sebagai ahli Fiqh dan ilmu
Alat (nahwu dan sharaf ), ia juga dikenal sebagai orang yang
“waskita,” weruh sak durunge winarah (tahu sebelum terjadi). Malahan
dalam hal yang terakhir ini, nama Kiai Kholil lebih dikenal.


Pada masa hidup Kiai Kholil, Ajaran Tarekat Naqsyabandiyah menyebar di
Madura. Kiai Kholil adalah ahli Tarekat; meski pun tidak ada sumber yang
menyebutkan kepada siapa Kiai Kholil belajar Tarekat. Tapi, diyakini ada
silsilah bahwa Kiai Kholil belajar kepada Kiai ‘Abd Al-Azim dari
Bangkalan — ahli Tarekat Naqsyabandiyah Muzhariyah.

Masa hidup Kiai Kholil, tidak luput dari gejolak perlawanan terhadap
penjajah. Tetapi, dengan caranya sendiri Kiai Kholil melakukan
perlawanan; pertama, ia melakukannya dalam bidang pendidikan. Dalam
bidang ini, Kiai Kholil mempersiapkan murid-muridnya untuk menjadi
pemimpin yang berilmu, berwawasan, tangguh dan mempunyai integritas,
baik kepada agama maupun bangsa. Ini dibuktikan dengan banyaknya
pemimpin umat dan bangsa yang lahir dari tangannya; salah satu di
antaranya: Kiai Hasyim Asy’ari, Pendiri Pesantren Tebuireng.

Cara yang kedua, Kiai Kholil tidak melakukan perlawanan secara terbuka,
melainkan ia lebih banyak berada di balik layar. Realitas ini
tergambar, bahwa ia tak segan-segan untuk memberi suwuk (mengisi
kekuatan batin, tenaga dalam) kepada pejuang, pun Kiai Kholil tidak
keberatan pesantrennya dijadikan tempat persembunyian.

Ketika pihak penjajah mengetahuinya, Kiai Kholil ditangkap dengan
harapan para pejuang menyerahkan diri. Tetapi, ditangkapnya Kiai Kholil,
malah membuat pusing pihak Belanda; karena ada kejadian-kejadian yang
tidak bisa mereka mengerti; seperti tidak bisa dikuncinya pintu penjara,
sehingga mereka harus berjaga penuh supaya para tahanan tidak melarikan
diri.

Di hari-hari selanjutnya, ribuan orang datang ingin menjenguk dan
memberi makanan kepada Kiai Kholil, bahkan banyak yang meminta ikut
ditahan bersamanya. Kejadian tersebut menjadikan pihak Belanda dan
sekutunya merelakan Kiai Kholil untuk di bebaskan saja.

Peran Kiai Kholil dalam melahirkan NU, pada dasarnya tidak dapat
diragukan lagi, hal ini didukung dari suksesnya salah satu dari
muridnya, K.H. Hasyim Asy’ari, menjadi tokoh dan panutan masyarakat NU.
Namun demikian, satu yang perlu digarisbawahi bahwa Kiai Kholil bukanlah
tokoh sentral dari NU, karena tokoh tersebut tetap pada K.H. Hasyim sendiri.

Mengulas kembali ringkasan sejarah mengenai pembentukan NU, ini berawal
pada tahun 1924, saat di Surabaya terdapat sebuah kelompok diskusi yang
bernama Tashwirul Afkar (potret pemikiran), yang didirikan oleh salah
seorang kiai muda yang cukup ternama pada waktu itu: Kiai Wahab
Hasbullah.Kelompok ini lahir dari kepedulian para ulama terhadap gejolak
dan tantangan yang di hadapi umat Islam kala itu,

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "BIOGRAFI KH KHOLIL BANGKALAN"

Post a Comment