Nalar Intelektual & Kekuasaan





"Nalar Intelektual& Kekuasaan"


Akademisi memiliki tugas Mulia dalam menjalankan tridarma Perguruan Tinggi untuk kepentingan Peradaban. Akademisi harus menemukan teori-teori baru dan inovasi baru dalam menyelesaikan Problematika Bangsa. Akademisi harus berfikir secara konseptual dan paradigmatik. Harus keluar dari zona nyaman.

Pertaruhan sebuah universitas ada dalam diri dosen sebagai mesin penggerak Peradaban. Dosen tidak mesti disibukkan dengan birokrasi-administrasi yang berbelit-belit, karena itu akan menghambat para dosen untuk mentransformasikan ilmu pengetahuannya.

Sudah saatnya para akademisi berselancar ditengah gelombang yang dahsyat untuk memberikan yang terbaik buat bangsa, negara dan umat.

Tidak ada manfaatnya sebuah perguruan tinggi dengan menara gadingnya tetapi keropos dalam meningkatkan kualitas Sumberdaya Manusianya.

Perguruan tinggi terjebak dengan persoalaan akreditasi yang terlalu administrasi-birokrasi yang akan membuat sebuah perguruan tinggi sulit untuk berkembang dan maju karena waktunya habis untuk mengurus persoalaan administrasi-birokrasi yang kaku.

Perguruan tinggi lain sudah bergerak cepat dalam membangun universitasnya, kita masih terus berdebat di meja diskusi yang tidak pernah selesai. Tantangan zaman sudah bergerak cepat yang tidak menutup kemungkinan akan meruntuhkan eksistensi sebuah perguruan tinggi.

Mereka sudah berlomba-lomba membangun sains untuk kepentingan bangsa dan negaranya. Negaranya memberikan ruang gerak kepada para pendidiknya untuk terus bergerak cepat, terutama di abad 21 yang semuanya serba cepat. Kualitas Jurnal bukan lagi ditentukkan oleh terindeks, tetapi kebermanfaatnya untuk bangsanya.
Perguruan tinggi tempat melakukan  perkelahian secara akademik yang memberikan manfaat kepada bangsa, negara dan umat.

Perguruan tinggi bukan medan pertarungan Politik untuk berburu kekuasaan. Perguruan tinggi yang terlibat dalam poros kekuasaan akan dipastikan membahayakan eksistensi perguruan tinggi.

Menjaga marwah perguruan tinggi dari gempuran kekuasaan menjadi wajib hukumnya dalam kaidah perguruan tinggi. Magnet Kekuasaan sangat kuat untuk meruntuhkan Perguruan tinggi ketika seluruh stackholder tidak mengantisipasinya dengan baik. Perguruan tinggi harus menjaga jarak dengan kekuasaan apalagi sampai melacurkan idealisme intelektualnya tetapi harus memfungsikan nalar intelektualnya untuk mengontrol jalannya kekuasaan..

Nalar akademik harus berada diatas logika kekuasaan. Nalar akademik tidak boleh tunduk atas perintah kekuasaan. Moralitas keilmuaan harus dijaga dengan baik ketika berhadapan dengan lingkaran kekuasaan. Perguruan tinggi tidak diperintah untuk menjadi penghamba Kekuasaan.

Perguruan tinggi diperintah untuk memproduksi para calon-calon pemimpin bangsa yang memiliki integritas, kredibilitas dan kapasitas.

Keberhasilan pemimpin bangsa berawal dari perguruan tinggi dalam memproduksinya, ketika gagal memproduksinya maka kemungkinan pemimpin akan gagal membawa pesan-pesan politik dari Rakyat.

Riset-riset yang dilakukan harus diarahkan untuk kepentingan peradaban bangsa. Narasi narasi yang dikembangkan perguruan tinggi harus tetap berjalan dalam kaidah akademik. Tumpuan masyarakat ada pada civitas akademik untuk ikut terlibat dalam membantu perjalanan bangsa dan ikut menyelesaikan.

Perguruan tinggi yang terbaik adalah bukan seberapa menghasilkan lulusan dan berlomba-lomba mengejar akreditasi tetapi seberapa jauh mampu melahirkan para pemimpin bangsa yang amanah, berakhlak mulia, memiliki empati, membantu masyarakat serta mampu mendobrak kekuasaan yang salah arah. Melurukan kekuasaan yang salah dengan cara konstruktif-solutif sangat dibutuhkan bangsa. Teringat Ungkapan seorang intelektual Muslim Iran Ali syariati yang karya karya Fenomenalnya sudah luar bisa.

Beliau mengungkapkan bahwa Intelektulal sejati tidak akan diukur dari gelar akademik melainkan sejauhmana seorang intelektual masuk ke denyut nadi nadi masyarakat serta memberikan yang terbaik buat negara, agama serta umat manusia dalam mempromosikan nilai- nilai kemanusian yang universal-holistik untuk kepentingan peradaban dunia.


Salam Muhammad Awod Faraz Bajri ( Purwakarta, 28 Agustus 2019) Semoga Bermanfaat..Dosen sosiologi Agama Sekolah Tinggi Agama Islam Al Muhajirin Purwakarta

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Nalar Intelektual & Kekuasaan"

Post a Comment