MEMAKNAI "NYI POHACI" DENGAN SUDUT PANDANG "KOMUNIKASI" POLITIK Hakikatnya "Tidak Ada Yang Kebetulan"..... Semuanya Pasti Sudah Direncanakan
Ngopi Wengi
Bersama "Kopi Antik"... Menginspirasi.
MEMAKNAI "NYI POHACI" DENGAN SUDUT PANDANG "KOMUNIKASI" POLITIK
Hakikatnya "Tidak Ada Yang Kebetulan"..... Semuanya Pasti Sudah Direncanakan.
By. Abah Asgun
Tukang "Kopi Antik"... Menginspirasi
Baru saja malam Saptu kemarin (sekitar pukul 20.30 WIB) saya tiba di Warung Sangu & Kopi Antik "Mr. Maranggi", sekira 3 menitan "ngurunyung" shohib lama yg hampir 3 tahunan tdk pernah bertemu. Dia sengaja datang bersama istri plus 2 anaknya untuk menikmati makan malam di Warung Sangu & Kopi Antik "Mr. Maranggi". "Ketagihan sate maranggi dan nasi tutug oncom Mr. Maranggi, kang hee...," ujarnya dgn tutur polos tdk mengada2.
Saya yg semenjak tiba di warung agak "murukusunu" (efek nonton Persib dibantai Bali United 2 jendol di kandang), agak sedikit "marahmay" tercerahkan. Setidaknya, kedatangan shohib kental dari semenjak sama2 kuliah S1 di IAIN Bandung ini memberi "kedutan" efek psikologi yg meriangkan. Obrolan2 ringan masa lalu yg penuh romantisme (terutama tentang berburu buku2 bekas di Cikapundung dan berbagai seminar di sekitar Bandung, plus berlomba ngeceng depan para mahasiswi), sejujurnya berhasil menggeser lipatan "kaheuneug" akibat Persib suwe di kandang.
Dari sekian obrolan ringan dgn shohib kita ini, ada satu topik menarik, yakni fenomena "Nyi Pohaci" yg sedang viral karena menjadi "ikon" dalam acara milangkala Purwakarta ke-188 ini (2019). Topik sentral obrolan kita tidak pada wilayah diskursus "kebenaran" falsafah dan mitos nyi pohaci (who is nyi pohaci?), karena disamping secara peribadi saya menganggap diskursusnya sdh "final" (itu semua tergantung sudut epistemologi masing2. Coba cek status ngopi saya yg sebelumnya), juga sepertinya ada yg luput menjadi "pembincangan publik", yakni terkait efek politik bagi aktor politik tunggal yang inten terlibat di dalamnya.
Dalam konteks "komunikasi" politik, ada satu aksioma bahwa sebuah peristiwa politik tidak "ujug2" terjadi begitu saja alias "tidak ada yang terjadi kebetulan", semuanya direncanakan atas dasar perencanaan politik "yg matang". Bilapun peristiwa itu dianggap peristiwa yg kebetulan, itupun pasti "peristiwa kebetulan yg sudah direncanakan dgn matang".
Sebagai sebuah produk kebijakan politik (karena bupati esensinya adalah pejabat politik), pengangkatan tema nyi pohaci tentu tidak terjadi "kebetulan". Ada konsep "rencana politik" yg matang di dalamnya, yang besar kemungkinan (diantaranya) dikaitkan dgn atribut politik pembangunan sebelumnya, dan juga "udagan" tujuan politik peribadi untuk level yang lebih tinggi, yakni di tingkat nasional.
Adalah fakta bahwa politik pembangunan Purwakarta hari ini adalah "kontinum" dari politik pembangunan sebelumnya. Bupati Purwakarta hari ini (Ambu Ane Ratna Mustika) adalah istri dari bupati Purwakarta sebelumnya (Kang Dedi Mulyadi). Logikanya, tidak sulit untuk dicerna bila bupati Purwakarta hari ini adalah "representasi politik" (baca : kepanjangan tangan politik) dari bupati sebelumnya.
Bagi saya, dalam konteks ini, memunculkan 2 fenomena menarik yg saling berkelindan melengkapi. Pertama, terkait jalinan logis politik pembangunan Purwakarta. Dan kedua, efek politik yg akan dirasakan oleh aktor politik penting di dalamnya, yg dalam hal ini Kang Dedi Mulyadi sebagai aktor politik tunggal.
Terkait fenomena pertama, yakni jalinan logis politik pembangunan Purwakarta, pengangkatan tema nyi pohaci menjadi hal yg logis dan wajar. Disinilah esensi "nilai lebih" dari "politik dinasti". Kebijakan "yang belum selesai" bisa dititipkan untuk diselesaikan secara utuh di pemerintahan setelahnya. Dalam bahasa shohib saya, praktek politik pembangunan Purwakarta, bisa diselesaikan berdua sambil "berasyik-masyuk" di kamar tidur. Maka menjadi logis bila politik pembangunan Purwakarta hari ini, dikonsep sesuai dgn konsep politik pembangunan Purwakarta sebelumnya, yakni "Purwakarta Istimewa" yg (diupayakan) bernuansa budaya dan nilai "darigama" Sunda. Pemilihan tema nyi pohaci, tidak syak lagi disandarkan atas misi politik pembangunan ini.
Terkait fenonena kedua, yakni terkait efek politik, inipun menjadi mudah untuk dipahami. Secara kasat mata, terlihat Kang Dedi (yg bermain di belakang panggung) sedang memainkan "dadu" politik dalam langkahnya menuju level yg lebih tinggi lagi di kancah politik nasional. Sudah menjadi rahasia umum bila Kang Dedi dikaitkan dalam "gosip" struktur menterinya rezim Jokowi jilid 2. Dalam berita yg beredar, Kang Dedi santer disebut2 akan menempati posisi menteri pariwisata atau menteri kehutanan. Dua posisi yg sampai hari ini sangat intens melekat kuat dgn aktifitas dan "kabisa" Kang Dedi.
Dalam konteks inilah tema nyi pohaci ini menjadi menarik. Satu sisi, menjadi bukti bahwa ada kontinuitas politik pembangunan di Purwakarta (memunculkan kesan konsistensi pembangunan); sementara di sisi yg lain, bagi Kang Dedi, sebagai medium politik untuk mencapai level politik yg lebih tinggi dan bergengsi. Peran besarnya (sebagai aktor politik tunggal) di balik layar nyi pohaci, akan menjadi "garansi politik" bahwa Kang Dedi sangat layak menduduki 2 posisi menteri itu.
Citra politik yg ingin dimunculkan adalah, Kang Dedi bukan sekedar politisi an sich, melainkan juga seorang profesional di bidang "ngaruwat" dan "ngamumule" bidang pariwisata dan hutan, yg selama ini masih terkesan menjadi titik lemah pemerintahan Pakde jokowi. Ada sinyal komunikasi politik yg sangat kuat yang sengaja diresonansikan ke publik nasional bahwa dirinya "fakih" di dua sektor pembangunan penting itu. Kabupaten Purwakarta adalah bukti dan sekaligus "garansi politiknya". Harapannya, hal ini tentu menjadi semacam "added-value" (nilai lebih) di mata Pakde jokowi. Sehingga Pakde Jokowi tdk sungkan lagi memintanya menjadi salah satu menterinya.
Dalam kapasitasnya sebagai fungsionaris penting di Partai Golkar hari ini (sebagai ketua DPD Partai Golkar Jabar), "udagan" politik itu bukanlah suatu hal yg mustahil. Sampai detik ini, peran politik yg sedang dimainkan Kang Dedi masih dalam rel yang wajar dan dinamis. Setidaknya, nama Kang Dedi tercatat sebagai salah satu diantara 5 calon menteri yg direkomendasikan ke Pakde Jokowi oleh Airlangga Sutjipto, sebagai pucuk pimpinan Partai Golkar.
Pada akhirnya kita berdua sepakat, bahwa dalam kontek politik, peristiwa apapun yg terjadi dalam dunia politik yg melibatkan aktor politik, semuanya sah2 saja, sepanjang diniatkan dan dipraktekan untuk pengabdian pada bangsa dan negara. Yang perlu diingat, tidak ada dalam peristiwa berdimensi politik itu "peristiwa yg terjadi kebetulan". Ketika terjadi kebetulan-pun, pasti itu peristiwa kebetulan yang telah direncanakan.
Obrolan "bergizi" tentang nyi pohaci yg dinikmati dgn sudut pandang "komunikasi politik" baru berhenti seiring dgn merengek minta cepet2 ingin pulangnya anak bungsu shohib kita ini. Memang sudah agak larut malam, sekitar pukul 22.00 WIB. Kita baru sadar, ternyata sudah lebih satu setengah jam saya dan shohib kental kita ini ngobrol "upleuk" di Warung Sangu & Kopi Antik "Mr. Maranggi".
Para karyawan warung yg dari semenjak pukul 20.30 WIB "elekesekeng" tentu gembira, karena sudah lebih dari satu jam warung belum tutup sebagaimana biasanya. Hampura euy Wa Uyun oge Ibi Uju...... Nya ke honorna ditambah-lah. Anggap we over-time nya.
Cag..... .
Purwakarta, 27 Juli 2019
Pukul 19.03 WIB

0 Response to "MEMAKNAI "NYI POHACI" DENGAN SUDUT PANDANG "KOMUNIKASI" POLITIK Hakikatnya "Tidak Ada Yang Kebetulan"..... Semuanya Pasti Sudah Direncanakan"
Post a Comment