TENTANG NYI POHACI & MURU INDUNG CAI




Ngopi Pagi
Bersama "Kopi Antik"... Menginspirasi.

TENTANG NYI POHACI & MURU INDUNG CAI
Ada epistemologi yg belum ketemu..... Itu Soalnya!

By. Abah Asgun
Tukang Kopi Antik... Menginspirasi

Baru beberapa detik lampu nyala pasca pemadaman "sepihak" oleh PLN (kira-kira pukul 20.00 WIB) kemarin malam 19 Juli 2019, "kurunyung" ada tamu ke Warung Sangu & Kopi Antik "Mr. Maranggi". Sejujurnya saya tdk kenal sama sekali dgn tamu tersebut -- karena sepertinya baru sekali ini bertemu, walaupun dia menyebut "sangat" mengenal saya. "Kang Asgun mungkin tdk kenal saya, tapi saya kenal kang Asgun," ujarnya seperti menjawab keheranan saya.

Usut punya usut, ternyata tamu kita ini sering mengikuti aktifitas "semi-akademik" saya, secara langsung ataupun tidak langsung. Menjadi pembaca "serius" dan "seksama" status2 saya di fesbuk, tweet ataupun ig. Bahkan tidak jarang, ikut menjadi mustami' (audiens) dalam acara seminar, diskusi, kajian dan bahkan pengajian yg saya menjadi narsumnya. Waduh walah.....

"Punten kang Asgun, disamping abdi hoyong nyobian deui sate maranggi dan sop iga plus ngopi antik, abdi rada panasaran hoyong diskusi tentang status fesbuk akang nu terakhir (18 Juli 2019). Bagi abdi, status kang Asgun asa ngambang tapi sangat menarik untuk didalami. Cik maksadna kumaha eta teh, kang?" Tanyanya setelah memesan 10 tusuk maranggi dan satu mangkok iga.

Sambil menunggu pesanan siap..... Akhirnya kita ngobrol santai, diselingi "gegeletrukanya" mulut mengunyah "suuk goreng" dan "usus goreng kering" yg tersedia di warung.

Bagi saya, perdebatan tentang nyi pohaci dan muru indung cai, mengingatkan perdebatan serius di Erofa pada abad pertengahan. Dengan intensitas dan lokus kebenaran yg boleh jadi berbeda (karena mistik dan mitologi di satu sisi, serta teologi agama di sisi lainnya yg jelas berbeda), perdebatannya seperti antara logika "kaum mistik" dan logika "kaum teologi". Bila di Erofa perdebatannya antara kaum mistisisme dan agamawan Nasrani, maka di Purwakarta melibatkan kaum tradisi yg kental dgn falsafah dan mitologi (dalam hal ini falsafah dan mitologi Sunda) vis a vis kaum agamawan muslim yg "pengkuh" dgn teologi tauhidnya.

Bagi kaum tradisi (Sunda), penghormatan pada mitologi tidaklah berarti "ngarempak" atau bahkan "menjungkir-balikan" nilai2 substansi ajaran Islam, terutama ajaran tauhid. Mitologi, bagi kaum tradisi, justru dibutuhkan terutama dalam ikhtiar menjadikan nilai agama itu lebih "membumi". Argumen bahwa nilai tradisi dianggap lebih "membumi", diantaranya dibuktikan dgn falsafah dan mitos "pamali" yg dulu begitu kental menjadi bagian masyarakat Sunda. Dulu, banyak aktifitas sosial, politik dan bahkan  ekonomi, didasari dgn falsafah dan mitos "pamali" ini.

Salah satunya (misalnya) "awas pamali asup leuweung larangan. Sok aya jurig nyiliwuri". Bagi kaum tradisi, warisan kearifan lokal "pamali" disana bukan berarti "kudu percaya jeng kudu sieun ka jurig". Kalau penekannya spt itu, jelas itu sama saja membuat "tandingan" (andaad) untuk Allah SWT. Dan itu, sadar tidak sadar, dapat menjurus pada praktek nyata perbuatan syirik. Penekanannya lebih pada kearifan pikiran dan sikap agar jangan mengganggu "leuweung simagonggong". Sebab ketika "leuweung simagonggong" diganggu, misalnya pohonnya ditebang membabi-buta, mata air dan sumber daya alam lainnya dieksplorasi dgn cara2 yg dzalim, akan terjadi mafsadat (kerusakan) di muka bumi.

Terbukti, ketika falsafah dan mitos "pamali" sudah tidak lagi menjadi bagian masyarakat (Sunda), keangkeran "leuweung simagonggong"-pun lenyap. Seiring dgn itu, masyarakat akhirnya hilang penghargaannya pada hutan dan segala isinya. Ujungnya masyarakat tdk peduli lagi dgn hutan dan rimbanya. Sedikit demi sedikit, hutanpun rusak, yg pada akhirnya tidak lagi menjadi berkah bagi kita. Alih-alih malah menjadi bencana.

Pun demikian "sepertinya" dgn falsafah dan mitologi nyi pohaci dan logika muru indung cai. Logika argumentumnya kurang lebih sama dengan falsafah dan mitologi "leuweung simagonggong". Harapannya (setidaknya ini yg saya dengar), dengan mengingatkan dan mengenalkan kembali pada nilai2 falsafah, mitologi dan tradisi "buhun", masyarakat Purwakarta diingatkan dan dikenalkan kembali tentang sumber penting kesejahteraan (yaitu padi) yg disimbolkan dgn nyi pohaci dan sumber penting kehidupan (yaitu air) yg disimbolkan dgn kegiatan muru indung cai.

Ada atau tidaknya praktek kemusyrikan, perlu dibuktikan dgn langsung menyaksi kegiatan tersebut, jika perlu sampai detik perdetik terjun langsung di lapangan. Tidak elok kita mensimpulkan hanya berdasar persepsi tanpa observasi. Toch pada kenyataannya, epistemologi yg masing2 kita gunakan seringkali berbeda. Meminjam istilah sosiolog positivistik, Auguste Comte, dengan kadarnya masing2, ada yg menggunakan logika berpikir mistik, ada juga yg menggunakan berpikir teologis, dan ada pula yg bersandar pada pengetahuan positivistik.

Sementara di sisi lain, hakikat pengetahuan, justifikasi dan rasionalitas keyakinan mistik jelas berbeda dengan hakikat pengetahuan, justifikasi dan rasionalitas keyakinan teologi (doktrin agama). Mistik berdasar "lamunan" filsafat akal, sementara agama bersumber doktrin wahyu. Terlebih lagi menggunakan hakikat pengetahuan, justifikasi dan rasionalitas keyakinan ilmu pengetahuan positivistik. Untuk penggalian referensinya lebih jauh, silahkan dikaji kembali (diantaranya) buku "Ilmu, Filsafat dan Agama" karya abah KH. Endang Saefudin Anshari dan karya2 besar "the father of sociology" Auguste Comte.

Yang jelas, jika kita ikuti tesis Comte, lipatan pemikiran mistik, teologi dan ilmu pengetahuan positif, akan selalu berkelindan dalam pikiran umat manusia (termasuk manusia yang ada di Purwakarta), mungkin sampai akhir zaman. Dan sepertinya, kita sulit menapikan fakta ini.

Maka dari itu, yg dibutuhkan adalah dialog yg dialektis, bukan yg linier. Dialog yg linier hanya akan membawa pikiran berjalan di relnya masing2, hingga akhirnya tdk ada "titik temu" sama sekali. Sejujurnya harus saya katakan, linieritas berpikir inilah yg menjadi pokok masalah kita hari ini. Pikiran kita dalam memaknai kehidupan berbangsa dan bernegara berjalan linier masing2. Kita seringkali asyik dgn kebenaran linier yg disimpulkan masing2, tanpa keinginan untuk mencari "titik temu", sehingga pada akhirnya kita jadi "lieur" sendiri. Banyak diantara kita pada akhirnya hanya menikmati kenikmatan "kebenaran semu", karena faktanya kita mengalami "ejakulasi kebenaran" sendiri2.

Dialog yg sejati setidaknya akan melahirkan 2 hal penting. Pertama, "harus" menambah kawan baru dan informasi keilmuan baru. Dan kedua, harus memunculkan kesadaran spiritual diri tentang keterbatasan manusiawi kita ketika "terpaksa" menyaksi kelebihan informasi pengetahuan dan keilmuan dari lawan dialog kita. Dialektika seperti ini biasanya mewujud "putaran spiral" yg tidak boleh mati. Di dalamnya ada "gesekan ritmik" atau bahkan terkadang rancak, antara beberapa tesis dan antitesisnya, yg pada akhirnya melahirkan sentesis "baru", hingga pada akhirnya-pun mewujud menjadi tesis dan antitesis "baru". Demikian seterusnya.....

Jadi, bukan semata-mata "gunem catur" hungkul! Apalagi jika "gunem catur"-nya dikonsep dengan logika "Kumaha karep weh". Jika ini yg terjadi, sulit untuk menghindari sangkaan bahwa semuanya semata2 aksi untuk meningkatkan "policy performance" demi "citra politik" yg lebih "melangit" lagi.

Cag......

Purwakarta, 25 Juli 2019
Pukul 07.33 WIB

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "TENTANG NYI POHACI & MURU INDUNG CAI"

Post a Comment