Tentang tantangan ke munkaran
"MAN RO-A MINKUM MUNKARON FALYUGHOYYIR-HU BIYADH.
FAIN- LAM YASTATHI FABILISAANIHI, FA-IN LAM YASTATH
FABIgOLBIHI, wADZAALIKA ADL-'AFUL İIMANT
Artinya
Barangsiapa diantara kamu melíhat kemungkaran, maka
kamu harus merubah dengan tangannya, apabila tidak kuasa
maka harus dengan lisannya, maka bila tidak kuasa dengan
lisan, harus dengan hati saja, itulah serendah-rendahnya
iman. (H.R. Muslim)
Ketika itu sang pendeta sudah siap hendak menghunjamkan
sebilah belati mengkilat keputih-putihan ke jantung si gadis yang
sedang dilentangkan di atas tumpukan batu-batu itu.
Sebenarnyà gadis itu merasa ketakutan dan tidak mau untuk
dijadikan korban kekonyolan itu, ia hendak berteriak. sedang
mulutnya dalam keadaan tersumbat dan terbungkam kain yang
kedua ujungnya diikatkan dibelakangnya. Dia hanya bisa
berbuat meronta-ronta yang tak ada artinya, karena kedua kaki
dan tangannya dipegang erat erat olch kedua lelaki yang
bertenaga kuat itu
Maka itulah Syaikh Maulana Malik Ibrahim segera berusaha
mencegahnya dari kejauhan dengan mengutarakan kata-kata
cegahan, agar pendeta itu tidak jadi membunuh si gadis tersebut.
Menurut cerita
pendeta yang mendapat cegahan dari Syaikh
falik Ibrahim itu, ternyata acuh saja, ia terus menghunjamkan
belatinya ke arah jantung gadis tadi. Tetapi benar-benar pendeta
itu menjadi terkejut.., ketika ujung belatt itu hampir sampai pada
tujuannya, terasa berat untuk menekankan belatinya, seolalh
olah terhalang oleh lempengan besi baja yang tebal.
Pendeta yang mcrasakan keganjilan itu menyadari, iapun
mencoba mengerahkan kekuatan batinnya untuk menembusnya.
Saat itu pula tiba-tiba saja tangannya menjadi tak berdaya lagi
maka fapun berdiri menatapi sekeliling orang-orang yang
berkerumun itu
0 Response to "Tentang tantangan ke munkaran"
Post a Comment